Kawasan industri di daerah Bekasi, Karawang dan sekitarnya sudah semakin rawan kegiatan ekploitasi yang memperkerjakan anak di bawah umur. Ironisnya, banyak perusahaan yang memperkerjakan anak di bawah umur tanpa bisa memberikan perlindungan dan jaminan kecelakaan kerja.

Ketua Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Gerakan Rakyat Sadar Hukum Indonesia (LABH Grasi) Bekasi, Bintoro Ponconugroho,

menjelaskan, mempekerjakan anak di bawah umur pada sebuah perusahaan, apapun alasannya merupakan tindakan yang melanggar Undang-Undang (UU) No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Namun dalam kenyatannya di lapangan, perbuatan melanggar hukum ini tetap saja terjadi.

“Khususnya di sekitar kawasan industri Bekasi hingga Karawang. Saat ini banyak anak di bawah umur dieksploitasi dan dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan,” kata Bintoro Ponconugroho, Selasa (1/11).

Menurutnya, khusus di daerah kawasan industri Bekasi, anak di bawah umur biasanya dipekerjakan pada berbagai perusahaan garmen. Sementara di Karawang, anak di bawah umur biasanya dipekerjakan sebagai buruh industri olahan.

Bintoro menambahkan, pengelola perusahaan semakin lama semakin tidak peduli dengan UU Perlindungan Anak karena tidak pernah ada pihak yang melakukan inspeksi maupun audit terhadap kondisi tersebut. Padahal, selain melanggar UU PA, kegiatan eksploitasi memperkerjakan anak di bawah umur juga melanggar UU tentang Perburuhan dan UU tentang Ketenagakerjaan.

Kasus perusahaan yang memperkerjakan anak di bawah umur mencuat pasca adanya laporan orangtua korban ke Komisi Nasional perlindungan Anak (Komnas PA), Selasa (1/11). Dalam laporannya, Awar (32) orang tua dari Supi (16) yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja meminta pertanggung jawaban PT Royal Karawang, perusahaan minyak goreng yang memperkerjakan anaknya.

Awar menceritakan, Supi meninggal dunia setelah tiga kali terjatuh saat bekerja menjaga mesin yang mengolah minyak goreng, Kamis (20/10) lalu. Setelah terjatuh, Supi sempat dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit Intan Barokah. Namun sayang, karena mengalami cedera berat di kepala bagian belakang, nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia pada Minggu (23/10).

“Hingga meninggal dunia, sama sekali tidak ada pertanggungjawaban dari perusahaan tempat anak saya bekerja. Bantuan hanya diberikan dari kantung pribadi perwakilan pengurus perusahaan sebesar tiga ratus ribu rupiah,” kata Awar dalam kesaksiannya.

Menurutnya, Supi merupakan anak pertama dari istrinya yang bernama Awis (30). Sudah selama delapan bulan Supi bekerja sebagai penjaga mesin di PT Royal Karawang dengan upah sebesar Rp36.000 perhari.

Ketua Komnas PA, Ariest Merdeka Sirait, menjelaskan, peristiwa yang menimpa Supi merupakan kelalaian perusahaan. Karena selain memperkerjakan anak di bawah umur,  perusahaan tersebut juga tidak memberikan jaminan perlindungan kecelakaan kerja.

“Komnas PA akan segera melakukan kontak dengan perusahaan. Dari keterangan sementara keluarga, memang ada pembiaran.  Kalau terbukti, perusahaan berarti sudah melanggar hak anak,” kata Ariest. Ariest menambahkan, perusahaan yang memperkerjakan Supi juga bisa dikenakan pasal tindak pidana karena telah mengabaikan dan memperkerjakan anak di bawah umur. [Y-7]

Ada 0 Komentar Untuk Berita ini

Tulis Komentar

Ganti text
Masukan Kode diatas

List Komentar

Kontak Informasi

Komplek Pemda Bekasi
JL. Ahmad Yani No. 1
Tlp : +62-21 99776295
HP : 081584658233
Fax: +62-21 8853948
E-mail: info@fsplem-bekasi.or.id